Senin, 05 Juli 2021

Hari ini tanggal 6 Juli 2021, tahun bersejarah di West Papua pulau Biak 6 Juli 1998 berkibar Sampari (Bintang fajar atau kejora)., oleh Patriot Bangsa.

Hari ini tanggal 6 Juli 2021, tahun bersejarah di West Papua  pulau Biak 6 Juli 1998 berkibar Sampari (Bintang fajar atau kejora)., oleh Patriot Bangsa.

Pada tahun 1998, saat politik Indonesia mengalami goncangan akibat desakan mahasiswa dan rakyat Indonesia dan kondisi ekonomi yang memburuk, pemerintahan Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto yang terkenal totaliter dan militerisme itu lengser. Setelah berkuasa selama 32 tahun. Dalam situasi yang sama gerakan rakyat Timor Timur (Timur Leste) untuk menentukan nasib sendiri melalui refendum mengemuka.

Hal itu sudah mendorong gejolak pergerakan rakyat di Papua yang lama berada di bawah tekanan berbagai operasi militer. Di berbagai wilayah rakyat menghimpun pergerakan. Kota-kota besar seperti Sorong, Timika, Merauke, Jayapura, Wamena, Nabire, Serui pergerakan semakin meluas. 

Tuntutan Papua merdeka berma dimana-mana. Dalam situasi yang sama di Biak pada Juli 1998 sekitar 500 - 100 orang terdiri dari tua, muda, laki-laki dan berkumpul di Tower Menara Air Minum Puskesmas. Rakyat menduduki lokasi itu selama hampir seminggu, mereka berkumpul disana dengan menyanyikan lagu-lagu sambil menjaga bendera Bintang Kejora berkibar di Puncak Tower. 

Namun yang diadakan dengan damai itu, tepat pada 6 Juli menjadi hari yang memiluhkan. Rakyat yang berada di sana secara sewenang-wenang ditangkap disertai pemukulan dan juga penembakan oleh gabungan Aparat Militer dan Polisi Indonesia. Atas tindakan brutal Aparat Indonesia itu tidak sedikit orang yang menjadi korban. Tidak ada disana, rumah-rumah di sejumlah wilayah kota Biak juga tidak luput dari penggeledahan dalam aksi penyisiran. 

Pengadilan yang dilakukan di Sydney, Australia pada tahun 2013 lalu menyatakan Aparat Indonesia terbukti melakukan pelanggaran, kekerasan, dan pembunuhan serta mutilasi. 

Sedangkan ELSHAM mencatat sekitar 150 orang menjadi korban. Sebagaian dari maya-mayat manusia tak berdosa itu dibuang begitu saja ke laut. Bagaimana rasanya, hal-hal seperti ini terjadi di depan mata kita. Ataupun terhadap saudaramu, orang tua ataupun adikmu? Hal itu dikisahkan oleh salah satu korban dan juga saksi mata Yuda Korwa, yang pada saat itu baru berusia 17 tahun. 

Saya melihat banyak orang dibunuh oleh mereka (militer dan polisi). Saya melihat orang-orang tua, wanita hamil dan anak-anak kecil tewas. Salah satu tentara memukul saya dengan pistol dan wajah saya penuh dengan darah. itu dan selamat selama dua hari di gorong-gorong jalan. Saya mendengar ada orang yang meminta pertolongan."

Selain Yuda Korwa, juga Eben Kirksey dan Tineke Rumkabu ketiga perempuan asli Papua ini adalah saksi mata perlakuan tidak manusiawi aparat militer dan polisi Indonesia pada waktu itu. 

Eben melihat seperti orang yang sedang bernyanyi, pasukan mulai menembak untuk dikembangkan. Orang-orang mulai berjatuhan dan sebagian lainnya berlarian. Orang-orang yang selamat digiring ke pelabuhan dan karya di kapal-kapal. Mereka bisa melihat orang mati dan karena tembakan aparat sedang dimuat ke truk. Wanita diperkosa dan dimutilasi setelah melihat teman mereka dipenggal." lanjut Eben dalam membuktikannya dikutip Tabloid Jubi.

Salah satu korban sekaligus saksi mata, Tinike pada membuktikan pertama kali mengatakan kepada teman-temannya di depan matanya. Dia sendiri mendapat siksaan mengerikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The TPNPB-OPM NEWS,. TENTARA PEMBEBASAN NASIONAL PAPUA BARAT ORGANISASI PAPUA MERDEKA TPNPB-OPM KODAP III NDUGAMA DARAKMA.MENOLAK DENGAN KERAS 40 PEMEKARAN DISTRIK BARU DAN 700 KEPALA KAMPUNG DI KABUPATEN NDUGA

The TPNPB-OPM NEWS TENTARA PEMBEBASAN NASIONAL PAPUA BARAT ORGANISASI PAPUA MERDEKA TPNPB-OPM KODAP III NDUGAMA DARAKMA. MENOLAK  DENGAN KER...