Jumat, 30 April 2021

OPM DAN TPNPB ITU WAJAR UNTUK DI LABELI TERORIS OLEH INDONESIA ? INI KATA PRESIDEN AMERIKA SERIKAT BIDEN SOAL PERBEDAAN TERORIS DAN BANGSA YANG BERJUANG UNTUK MERDEKA





OPM DAN TPNPB ITU WAJAR UNTUK DI LABELI TERORIS OLEH INDONESIA ?

INI KATA PRESIDEN AMERIKA  SERIKAT BIDEN SOAL PERBEDAAN TERORIS  DAN BANGSA YANG BERJUANG UNTUK MERDEKA
************************************

Hari ini kita mendapatkan sebuah definisi baru tentang "TERRORISM/TERRORIST" yang baru saja dinyatakan oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden dalam Pidatonya di depan Kongres Amerika outlining kebijakan2 pemerintahnya sejak 100 hari berada/menempati Kantor Kepresidenan Amerika Serikat.
Menurut Biden, White Supremacy adalah Terrorism yang tidak bisa dibiarkan bertumbuh di Amerika.

Supremacy/Supremasi adalah keunggulan atau  keagungan yang mendorong seseorang atau sekelompok orang atau suku untuk melakukan tindakan2 yang menunjukan kehebatan/kekuatan/kekuasaan yang lebih tinggi dari orang lain.

Kalau Biden mengatakan "White Supremacy" adalah terorisme yang tidak bisa dibiarksn bertumbuh dan mendapat, tempat di dalam komunitas Amerika Serikat, bagaimana dengan Indonesia yang dikendalikan oleh suku2 dan organ2 yang merasa hebat, unggul, agung yang merasa  sangat berkuasa dan mempunyai kekuatan untuk mengendalikan dan menguasai orang lain?

Bagaimana penguraian definisi yang dikemukakan oleh Biden tentang "terrorisme" yang berhubungan atau terjadi karena perasaan hebat, unggul dan berkuasa dari oknum2 dan organ2 pemerintah Indonesia yang sementara ini berupaya untuk mengklasifikasikan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan TPNPB sebagai kelompok "terorist"?

Jadi terrorist adalah mereka, individu, kelompok orang yang merasa super dan mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk menindas orang atau suku/bangsa lain untuk kepentingan dagang/ekonomi mereka.

Rasa unggul dan kehebatan suku2 lain diluar Papua yang menyerbu dan mengeksploitasi sumber2 alam tanah Papua membuat orang Papua bangkit untuk melawan sebagai tindakan dan tanggungjawab melindungi kekayaan dan tanah2 adatnya.

TPNPB menggunakan kekerasan dan mengangkat senjata melawan pemerintah Indonesia yang dianggap kolonial karena Indonesia lebih dulu menggunakan kekerasan melalui operasi2 militer yang dilakukan sejak 50 tahun lalu terhadap orang Papua untuk menguasai tanah2 adat dan sumber2 alamnya. 

Terrorist adalah julukan yang diberikan oleh orang2 yang berkuasa sebagai langkah untuk membenarkan diri mereka dari keadaan sesungguhnya, sebagai kelompok terorist yang sebenarnya menurut definisi baru yang diangkat oleh Joe Biden, presiden Amerika Serikat hari ini.® wapupi0275.

Kamis, 29 April 2021

KEPALA BIN PAPUA JADI TUMBAL

KEPALA BIN PAPUA JADI TUMBAL
Kepala BIN Papua Jadi Tumbal

Jokowi dan semua petinggi negara di Jakarta tidak memiliki kemauan selesaikan konflik West Papua dengan damai. Mereka masih mau "panen darah", korbankan kemanusiaan sebagai tumbal kepentingan segelintir elit borjuis birokrat di Jakarta. 

Alih-alih "berburu" proyek emas di blok Wabu, Intan Jaya,  Jakarta buat West Papu jadi zona militer, bahkan jenderal sekelas Kepala BIN Daerah Papua turun tangan dan di-tewaskan dalam operasi ini. Entah berapa banyak lagi manusia yang akan jadi tumbal kepentingan ekonomi politik penguasa Indonesia di West Papua.

Jakarta masih gunakan pola kolonialisme kuno di West Papua; yang ekspansif, represif dan eksploitasi. Yang Jakarta pusingkan hari ini adalah rekayasa politik Otsus. Pusing dulang legitimasi otsus dari rakyat Papua; yang telah menolak Otsus (110 organisasi masyarakat Papua lewat Petisi Rakyat Papua ) dan menuntut solusi hak penetuan nasib sendiri.

Jakarta benar-benar tidak punya niat baik bagi masa depan Papua. Eks Kepala BIN AM Hendropriyono bilang "mekarkan Papua agar pecah belah dan pindahkan 2 jt orang Papua ke Manado agar Papua diisi orang Pendatang". Diikuti kata Ketua MPR RI kemarin, "Tumpas habis, urusan HAM bicarakan nanti". Inilah wujud nyata dari watak kolonialisme.

Saya kira semua orang harus pahami bahwa konflik Papua dilahirkan oleh kontradiksi alamiah antara penjajah dan pihak terjajah. Filsuf Karibia Frantz Fanon katakan: ..."akan selalu ada kontradiksi antara kolonialisme yang semakin kokoh menanamkan kuku dan semakin tingginya spirit dekolonisasi dari bangsa yang terjajah".

Sebagai seorang revolusioner Fanon menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik yang terjadi terus menerus tersebut adalah dengan menghapuskan penjajahan itu sendiri. Sebab, penjajahan adalah akar dari konflik-konflik tersebut.

Jakarta seharusnya berperan aktif sesuai amanat UUD 1945 untuk menghapuskan penjajahan diatas dunia dan ikut menciptakan perdamaian dunia. Seperti dekolonisasi damai Prancis bagi Kanaky dan PNG bagi Bougainville. Jangan hanya jago bicara damai untuk Myanmark sementara mulut dan tangan berlumuran darah di West Papua. Itu bukanlah kemanusiaan yang adil dan beradab tapi biadab.

Orang Papua yang berjuang damai maupun bersenjata itu manusia yang memiliki alasan dan kesadaran politiknya; berjuang karena dan untuk suatu kebenaran tentang sejarah politiknya, kebenaran akan ketertindasannya, kebenaran bahwa tanah dan manusia terancam hancur habis. Fakta (data) membuktikan itu.

Lantas, nurani kemanusiaan kita dimana saat yang terjajah berjuang membela diri (self-defence) untuk membebaskan diri dari segala ancaman. Bangsa Papua butuh tindakan darurat dalan situasi darurat (SOS). Bangsa Papua harus bebas. Manusia harus bebas dahulu, baru damai sejahtera itu bisa terwujud.

Sekali lagi, hentikan konflik bersenjata. Jangan korbankan kemanusiaan demi kekuasaan ekonomi politik segelintir elit birokrat. Segera berikan ruang bagi orang Papua untuk menentukan nasibnya secara damai dan demokratis.

Victor Yeimo
Juru Bicara Internasional  (KNPB), Tn. Victor Yeimo 

The TPNPB-OPM NEWS,. TENTARA PEMBEBASAN NASIONAL PAPUA BARAT ORGANISASI PAPUA MERDEKA TPNPB-OPM KODAP III NDUGAMA DARAKMA.MENOLAK DENGAN KERAS 40 PEMEKARAN DISTRIK BARU DAN 700 KEPALA KAMPUNG DI KABUPATEN NDUGA

The TPNPB-OPM NEWS TENTARA PEMBEBASAN NASIONAL PAPUA BARAT ORGANISASI PAPUA MERDEKA TPNPB-OPM KODAP III NDUGAMA DARAKMA. MENOLAK  DENGAN KER...